RINGKASAN

 

Ketahanan Pangan menjadi satu prioritas dalam pembangunan nasional. Dimana tujuan dari pembangunan ketahanan pangan adalah menjamin ketersediaan dan komsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi seimbang bagi rumah tangga yang pada akhirnya akan mewujudkan suatu kedaulatan bangsa.

Provinsi Lapung merupakan salah satu lumbung ternak sapi di Indonesia. Sebagai lumbung ternak Provinsi Lampung mengalami surplus sapi/daging sapi. Namun, surplus sapi/daging sapi tidak diikuti oleh stabilnya harga daging sapi. Harga daging sapi mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan rata-rata peningkatan Rp.50.000’-/Kg- Rp.70.000,-/Kg dari harga dasar rata-rata. Peningkatan cukup signifikan terlihat pada akhir bulan Juni 2013 atau menjelang hari raya Idul Fitri, harga daging sapi mencapai level Rp. 120.000,-/Kg dan akhir taun 2013 harga daging sapi cenderung tinggi dengan rata-rata Rp. 95.000,-/Kg hingga akhir tahun 2013.

Kenaikan harga daging sapi dipicu oleh naiknya permintaan daging sapi serta berkurangnya stok sapi/daging sapi dipasaran. Berkurangnya ketersediaan sapi/daging sapi disebabkan oleh dibatasinya impor sapi bakalan dan daging sapi guna meningkatkan dayasaing sapi/daging sapi lokal. Pembatasan impor tidak diikuti oleh industrialisasi peternakan sapi lokal sehingga ketersediaan sapi dipeternak semakin berkurang. Faktor lain yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan sapi/daging sapi di pasaran juga terkait dengan karakteristik peternakan. Peternak sapi lokal umumnya berusaha dalam skala kecil, bukan usaha komersial tetapi sebagai simpanan /tabungan masyarakat guna mengantisipasi kebutuhan dimasa yang akan datang, serta lokasi peternakan yang jauh dan sulit dijangkau. Naiknya harga daging sapi dipasaran jika hanya dipicu oleh masalah ketersediaan sapi/daging sapi seharusnya dapat terselesaikan dengan menambah ketersediaan melalui impor. Namun impor daging sapi beku, sapi siap potong, dan sapi bakalan tidak mampu menstabilkan harga sapi/daging sapi dipasaran. Oleh karena itu, perlu adanya kajian mengenai alur distribusi dan mekanisme pembetulan harga sapi/daging sapi di Provinsi Lampung.

Tujuan kajian kegiatan alur distribusi pangan pokok strategis (sapi/daging sapi) di Provinsi Lampung adalah (1) Mengetahui alur distribusi sapi/daging sapi lokal dan impor di Provinsi Lampung, dan (2) Mengetahui Mekanisme pembetulan harga dan penyebab kenaikan harga sapi sapi/daging sapi di Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lamp[ung Tengah, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) karena merupakan sentra peternakan sapi di Provinsi Lampung. Penelitian ini mengambil sampel responden dari berbagai pihak, yaitu petani produsen, pelaku pemasaran di tingkat pasar desa, kecamatan, dan Kabupaten/Kota. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive) dan snowball sampling.

Pendekatan ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk mencari pola saluran pemasaran/distribusi dan mekanisme pembentukan harga daging sapi/sapi dari produsen hingga tingkat konsumen akhir, Parameter yang digunakan untuk mengetahui analisis organisasi pasar adalah (1)  Jumlah pelaku/lembaga pemasaran yang terlibat dalam suatu pasar, (2) Pola pemasaran sapi/daging sapi yang dihadapi pelaku pasar untuk masuk dalam sistem pemasaran.

Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menentukan efisiensi pemasaran yang didekati dengan formula margin tataniaga dan profil margin (RPM). Mekanisme pembentukan harga dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan struktur dan integrasi pasar. Analisis yang digunakan adalah analisis korelasi  dan transmisi harga. Analisis korelasi harga aalah analisis yang menggambarkan seberapa jauh perkembangan harga suatu barang pada dua tempat/tingkat yang sama atau berlainan yang saling berhubungan melalui perdagangan. Kedua tempat/tingkat tersebut dapat antar wilayah dalam Negara atau antar Negara, misalnya antara pasar kecamatan dengan pasar Kabupaten. Korelasi harga diukur dengan analisis statistik dengan menggunakan times series data. Analisis transmisi harga adalah analisis yang menggambarkan sejauh mana dampak perubahan harga suatu barang di satu tempat/tingkat terhadapperubahan harga barang itu di tempat/tingkat lain (Hsyim, 2000).

Sistem pemasaran yang dianalisis meliputi lembaga pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, dan keragaan pasar, Lemabaga Pemasaran sapi/daging sapi di Provinsi Lampung terdiri dari peternak, belantik, Bandar sapi, feedloter, RPH, Bandar daging, pedagang pengecer dan konsumen. Peternak sapi potong lokal di Provinsi Lampung pada umumnya mengusahakan untuk mereka bersamaan dengan usahatani lainnya. Rata-rata peternak sapi di Provinsi Lampung telah melakukan usaha ternak lebih dari 15 tahun dengan kepemilikan antara 1 – 10 ekor per orang. Blantik melakukan pembelian sapi dari peternak dalam jumlah yang kecil anatar satu sampai dua ekor. Blantik disini memudahkan peternak dalam hal pengangkutan karena peternak. Bandar sapi melakukan fungsi tempat yaitu dengan menampung sapi salam jumlah yang lebih besar untuk kemudian disalurkan ke feedloter atau RPH (penjagal sapi).

Feedloter perusahaan swasta memiliki kategori permintaan yang lebih ketat dibandingkan dengan feedloter perseorangan. Sapi yang dibeli harus sehat dan memenuhi persyaratan berat minimal 250 Kg. Selain feedloter perusahaan swasta di Lampung juga terdapat feedloter-feedloter perseorangan yang memiliki kapasitas kandang dan penggemukan  sapi cukup besar. Jumlah sdapi yang mereka ternakan berkisar antara 500 – 3000 sapi . Penguasaan sapi lokal di Lampung sebagian besar bias dilakukan dimiliki oleh feedloter perseorangan ini. RPH dalam saluran pemasaran yang berikutnya yaitu RPH atau penjagal. RPH merupakan lembaga yang resmi memiliki izin pemerintah untuk melakukan pemotongan sapi, sementara penjagal adalah individu perseorangan yang bergerak di bidang usaha pemotongan sapi tanpa harus memiliki izin dahulu dari pemerintah. Pelaku lembaga pemasaran selanjutnya adalah Bandar daging. Bandar daging adalah individu/lembaga yang menyalurkan daging ke pengecer daging atau Horeka. Banyak juga terdapat Bandar daging yang merangkap sebagai pengecer di pasar, karena keuntungan akan lebih maksimal. Untuk sapi impor Bandar daging sapi lokal akan disalurkan ke pedagang pengecer. Pedagang pengecer adalah individu/lembaga yang melakukan penjualan daging sapi langsung ke konsumen, baik konsumen di pasar tradisional maupun  UKM.

Jika dilihat dari pembeli dan penjual yang terlihat dalam rantai pemasaran,maka perlu pelaku pemasaran berada dalam keadaan struktur pasar yang bersaing sempurna. Akan tetapi setelah di teliti lebih lanjut struktur pasar sapi/daging sapi di Provinsi Lampung cenderung oligopoli. Struktur pasar oligopoli yaitu suatu keadaan pasar dengan beberapa produsen  yang menghasilkan barang yang sama. Differensiasi produk mengacu pada berbagai jenis produk (sapi dan daging sapi) yang dihasilkan oleh produsen.Hasil penelitian kinerja pasar sapi/daging sapi potong menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan dimulai dari sapi hidup hingga potongan daging. Untuk lembaga pemasaran peternak, belantik, Bandar sapi dan feedloter menjual produk dalam bentuk sapi hidup. Sedangkan jika telah melewati RPH hingga konsumen akhir, produk yang diperjual belikan berupa sapi yang telah dipotong atau potongan daging.

Perilaku Pasar ( Market Conduct )   adalah pola tingkah laku dari lembaga pemasaran dalam hubungannya dengan sistem pembentukan harga dan praktek transaksi. Peternak menjual sapi pada waktu tertentu, seperti ketika ada kebutuhan mendesak, kebutuhan anak sekolah, atau ketika perayaan hari besar agama. Harga jual sapi ditetapkan dari kesepakatan kedua belah pihak setelah terjadi proses tawar menawar, Namun keputusan penetapan harga dipegang penuh oleh pembeli, karena posisi peternak yang lemah dan tidak mempunyai daya tawar. Peternak sapi lokal bias menjual sapi kepada beberapa lembatga pemasaran yang ada, seperti belantik, Bandar sapi,  feedloter atau pembeli yang datang dari luar daerah. Peternak memiliki keleluasaan dalam menjual ternaknya, dan kebanyakan para pembelilah yang datang mencari petani untuk membeli sapi. Kecuali feedloter yang hanya menerima dari belantik atau Bandar, jarang sekali mencari sendiri. Ketidakpastian periode penjualan yang dilakukan oleh peternak membuat pembeli cukup kesulitan mencari sapi di pasaran.

Keragaan Pasar  menggambarkan sampai sejauh mana pengaruh riil struktur dan perilaku pasar yang berkenaan dengan harga, biaya, volume produksi, pangsa produsen, marjin pemasaran, dan elastisitas transmisi harga ( Hasyim, 1994)

Berdasarkan hasil penelitian duiperoleh saluran pemasaran sapi/daging sapi di Provinsi Lampung  sebagai berikut :

1.          Peternak®blantik®bandar/pengumpul sapi ®feedloter (lokal) ®RPH/penjagal®Bandar daging/pengecer ®konsumen pasar tradisional dan UKM.

2.          Peternak ®belantik®bandar/pengumpul sapi ®feedloter (impor) ®RPH/penjagal ®bandar daging/pengecer ®konsumen pasar tradisional dan UKM.

3.          Peternak ®blantik ®RPH/Penjagal ®bandar daging/pengecer ®konsumen pasar tradisional dan UKM.

4.          Peternak ®feedloter (lokal) ®RPH/penjagal ®bandar daging/pengecer ®konsumen pasar tradisional dan UKM.

5.          Peternak ®belantik ®feedloter(lokal) ®bandar sapi (LP)

6.          Peternak ®feedlot (rakyat) ®bandar sapi (LP)

7.          Inportir sapi ®feedloter (impor) ®RPH ®bandar daging/pengecer ®Horeka (khusus sapi impor).

 

Berdasarkan pembentukan harga, biaya dan volume diketahui bahwa pembelian besarnya biaya pembelian bakalan sapi merupakan  komponen biaya utama dalam produksi sapi mencapai 79,85 persen dari total biaya produksi. Komponen biaya pakan berkontribusi sebesar 11,89 persen, sedangkan untuk biaya tenaga kerja dan penyusutan kandang berkontribusi 2,5 persen dan 5,5 persen dari total biaya produksi. Besarnya biaya penggemukan sapi sebagai akibat tingginya biaya sapi bakalan menjadi hambatan pengembangan usaha penggemukan sapi secara umum.

Perhitungan HPP sapi/daging sapi berdasarkan harga dan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer diperoleh bahwa HPP daging sapi ditingkat pengecer sebesar Rp. 755.600/Kg atau setara dengan U$ 7,5 (asumsi U$.1 = Rp. 10.000). Harga ini jauh lebih mahal jika kita bandingkan dengan harga daging sapi impor yang masuk ke Indonesia yang hanya mencapai U$.4-5/Kg atau setara dengan Rp. 40.000-50.000/Kg.

Analisis pangsa produsen digunakan untuk mengetahui bagian harga sapi potong yang diterima oleh peternak sapi dari jumlah harga daging sapi yang dibayar oleh konsumen akhir. Semakin tinggi pangsa produsen merupakan indikator bahwa pemasaran semakin efisien. Dengan kata lain, semakin tinggi bagian harga yang diterima produsen, maka sistem pemasaran suatu produk, dapat menyampaikan produk dari produsen ke konsumen dengan posisi biaya dan keuntungan pemasaran yang proposional dengan peranannya. Berdasarkan analisis pangsa produsen terlihat bahwa saluran pemasaran V dan VI member share paling tinggi kepada produsen yaitu 61,52% dan 74,83%. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya lembaga  perantara pemasaran yang berperan dalam menyampaikan produk sapi dari peternak. Pangsa pasar ditiap saluran pemasaran menunjukan persentase yang kecil yaitu kurang dari 50 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa peternak memiliki posisi tawar yang rendah, banyaknya perantara pemasaran dan berbedanya jenis produksi ketika sampai dikonsumen akhir.  Berdasarkan analisis pangsa produsen dapat diketahui bahwa biaya produksi yang harus ditanggung peternak dalam proses produksi per ekor sapi sudah cukup tinggi yaitu rata-rata sebesar 46,74 persen. Dengan dekikian sisanya adalah biaya pemasaran dimasing-masing saluran distribusi. Jika persentase biaya produksi pada tingkat peternak sudah setinggi itu, wajar saja jika harga daging sapi eceran dipasaran tinggi.

Marjin pemasaran  merupakan selisih antara harga beli ditingkat lembaga ditingkat pemasaran dengan harga jualnya. Panjangnya rantai pemasaran sapi potong hingga menjadi daging sapi menjadikan daging sapi menjadikan harga daging sapi relatif mahal. Semakin panjang saluran pemasaran mengakibatkan margin pemasaran semakin tinggi dan bagian harga yang diterima produsen semakin rendah.  Distribusi margin pemasaran dan ratio profil margin (RPM) pada masing-masing lembaga perantara tidak merat, sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pemasaran sapi dan daging sapi di Provinsi Lampung belum efisien. Namun bila dibandingkan dari ketujuh saluran pemasaran yang paling efisien adalah saluran pemasaran V dan VI. Hal ini bersadarkan pada tingginya bagian harga yang diterima produsen yaitu 61,52 persen dan 74,83 persen.

Analisis transmisi harga adalah analisis yang menggambarkan sejauh mana dampak perubahan harga suatu barang di suatu tingkat terhadap perubahan harga barang itu di tempat lain. Berdasarkan hasil perhitungan (Lampiran Tabel), maka diperoleh nilai elastisitas transmisi harga harga untuk peternak sebesar 1,11 (Et > 1). Hal ini menunjukan bahwa laju perubahan harga ditingkat produsen lebih besar dari laju perubahan harga ditingkat konsumen. Perubahan harga sebesar 1 satuan ditingkat peternak akan membawa perubahan harga sebesar 1,11 satuan ditingkat konsumen.

Pembentukan harga sapi/daging sapi dipasaran diperoleh dari beberapa pilihan, diantaranya kesepakatan antara pembeli dan penjual, mengikuti harga yang sudah terbentuk di pasaran dan dari besarnya biaya produksi yang harus dikeluarkan. Harga yang terbentuk berdasarkan kesepakatan antara penjual dan pembeli biasanya membentuk harga yang saling menguntungkan di kedua belah pihak. Penjual dan pembeli memiliki posisi tawar yang sama kuat. Berbeda untuk harga yang terbentuk dari harga pasaran, biasanya peternak yang secara tidak langsung dirugikan karena peternak cenderung tidak mengetahui informasi pasar mengenai harga. Besaarnya biaya produksi yang harus dikeluarkan produsen akan mempengaruhi harga jual produk. Jika biaya produksi yang dikeluarkan tinggi maka harga jual akan tinggi. Biaya produksi ditanggung oleh peternak dan feedloter, sedangkan lembaga lainnya yang menanggung biaya pemasaran. Masing-masing  saluran distribusi menunjukan tingginya biaya produksi yang dikeluarkan, dimana persentase biaya produksi ditingkat peternak mecapai 46,75 – 74,83 persen dan persentase biaya produksi ditingkat feedloter antara 18,31 – 36,43 persen, Sisanya adalah persentase biaya pemasaran yang harus ditanggung oleh beberapa lembaga pemasaran.  Tingginya biaya produksi menunjukan bahwa produksi sapi/daging sapi belum efisien.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

1.       Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kinerja usaha peternakan sapi rakyat, melalui peningkatan mutu bibit, penerapan teknologi reproduksi, penerapan teknologi budidaya yang baik (GAP), meningkatkan mutu pakan, pengendalian kesehatan ternak.

2.       Mendorong produktivitas peternak sapi lokal agar mengusahakan sapi dengan skala komersil, melalui kemitraan dengan kelompok-kelompok peternak guna meningkatkan dayasaing peternak sapi lokal.

3.       Diperlukan kebijakan penataan sistem tataniaga sapi/daging sapi yang terintegrasi dengan program terminal Agribisnis Provinsi Lampung dan sub terminal agribisnis penunjang.

4.       Mendorong Pemerintah agar mengeluarkan Peraturan Daerah yang mengontrol alur distribusi sapi/daging sapi dari peternak hingga ke konsumen akhir.

5.       Diperlukan studi lebih lanjut untuk mendeskripsikan profil feedlot rakyat, prospek pengembangan peran feedloter rakyat dalam rantai pasok sapi/daging sapi nasional, serta penyusunan regulasi yang diperlukan.

 

Download

Search

LINK

 

LINK Kabupaten/Kota

Visitors Counter

152141
TodayToday23
YesterdayYesterday111
This_WeekThis_Week1002
This_MonthThis_Month2663
All_DaysAll_Days152141
Copyright © 2017 Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Lampung. All rights reserved.